KONASPI IX/2019: Archandra Bicara Disrupsi Dihadapan Ribuan Akademisi

KONASPI IX/2019: Archandra Bicara Disrupsi Dihadapan Ribuan Akademisi
Printer Friendly, PDF & Email
Kategori

Padang --  Wakil Menteri ESDM, Ir. Archandra Tahar, M Sc.PhD  hadir dalam acara Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) IX/2019 sebagai pembicara kunci. Dihadapan tiga ribuan akademisi se-Indonesia itu Wamen ESDM  memaparkan bahwa era disrupsi kini tidak hanya terjadi pada bidang teknologi, melainkan juga di sektor lainnya, seperti olah raga.

Ia mencontohkan pada olah raga tenis, saat ini penggemar tenis kian berkurang dan kurang diminati oleh kaum muda yang familiar disapa kaum millenial. Meskipun begitu, Arcandra menerangkan bahwa olahraga tenis mampu men-disrupt dirinya agar tidak tergilas oleh zaman. Hal itu terbukti pada perhelatan Asian Games 2018 lalu dimana terdapat cabang olah raga soft tennis.

Wamen ESDM juga menjelaskan bahwa selain pada bidang olah raga, era disrupsi juga terjadi pada bidang energi. Karena kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia mencapai 1,4 juta barel per hari dengan produksi minyak mentah yang hanya sekitar 800 ribu barel per hari, maka Indonesia mengimpor 600 ribu barel minyak per hari.

"Sejak 2003-2004 kita adalah negara pengimpor crude BBM. Ketahanan energi kita akan sulit tercapai kalau sebagian besar energi berasal dari impor," ungkap Arcandra di depan civitas akademika dari berbagai daerah di Indonesia, di Auditorium UNP, Jln Prof Hamka, Kampus Air Tawar, Padang, Kamis (14/3).

Lebih detail Arcandra mengatakan bahwa Kementerian ESDM sudah berusaha melakukan disrupsi bidang energi dengan memulai eksplorasi mencari minyak dan gas bumi. Meskipun begitu, Ia mengakui bahwa eksplorasi merupakan usaha yang dilakukan dalam jangka panjang, hingga minyak atau gasnya mengalir, setidaknya membutuhkan waktu sekitar 15-20 tahun.

"We have to disrupt ourselves. Apa yang kita disrupt, untuk jangka panjang kita harus memulai dengan eksplorasi mencari oil dan gas, sayangnya eksplorasi ini membutuhkan waktu 6-10 tahun. Kalau kita mengeksplor dan ketemu tahun ke-10 maka dibutuhkan 5-10 tahun lagi untuk bisa oil atau gas nya mengalir," imbuh Arcandra.

Langkah lain yang dilakukan adalah disrupsi dalam hal kebijakan, seperti diungkapkan Arcandra, pada tahun 2017 lalu, Kementerian ESDM mengubah sistem fiskal yang lebih atraktif kepada para investor dalam penawaran blok-blok migas, dari yang sebelumnya cost recovery diubah menjadi gross split.

Ia menuturkan bahwa perubahan tersebut membawa dampak positif pada iklim investasi migas di Indonesia, dimana para investor menyambut baik sehingga blok migas yang ditawarkan pada tahun 2017 laku 5 blok dan 2018 laku 9 blok.

"Penawaran blok migas tahun 2015 dan 2016 tidak ada yang laku karena menggunakan cost recovery. Kita berani mendisrupt diri kita merubah paradigma kita, changing our fiscal regime menjadi gross split. Dengan gross split laku 5 blok di 2017 dan 2018 laku 9. Ini disruption yg kita lakukan di kementerian dalam hal policy," rincinya. (Humas UNP)