Dari Lahan Sempit ke Kendali Sensor: UNP Sulap Hidroponik Jadi Solusi Cerdas Krisis Pangan & Dongkrak Reputasi Global

Foto bersama saat pembukaan acara Pengabdian Masyarakat. Foto-Foto: Tim Pengandian UNP

Padang– Dalam merespons paradoks perkotaan yang kian akut, di mana pertumbuhan populasi berbanding terbalik dengan penyusutan lahan produktif. Universitas Negeri Padang (UNP) menunjukkan peran strategisnya melalui intervensi berbasis sains dan teknologi. Melalui Focus Group Discussion (FGD), Sabtu (20/6) dan diseminasi bertajuk “Pengembangan Budidaya Hidroponik Berbasis Automatisasi Nutrisi dengan Sensor pH dan TDS” di Alfi Hidroponik, Kota Padang, UNP tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi membangun sebuah ekosistem pertanian urban 4.0 yang berkelanjutan. Kegiatan yang menjadi bagian dari implementasi Program Equity untuk THE Impact Rankings 2025/2026 ini menghimpun 20 peserta inti dari praktisi, penyuluh, dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Padang, merepresentasikan model kolaborasi quadruple helix yang menempatkan inovasi teknologi sebagai katalis untuk memutus rantai ketergantungan kota terhadap pasokan pangan eksternal yang sudah tidak berkelanjutan.

Ketua Pengabdian Masyarakat Prof. Dr. Yulkifli, S.Pd., M.Si. memberikan sambutan.

Krisis pangan perkotaan tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan ketersediaan lahan dimana ia adalah konsekuensi langsung dari anomali tata ruang yang ironis. Contoh paling gamblang terlihat di Kota Bandung yang kini hanya menyisakan 0,6% lahan pertanian dari total wilayahnya dan begitu juga di Kota Padang hanya 7,9 %. Di tengah desakan urbanisasi, budidaya hidroponik telah menjadi solusi yang tak terelakkan. Akan tetapi, praktik pengelolaan nutrisi secara manual yang masih dominan justru menciptakan hambatan kritis (bottleneck): fluktuasi pH dan Total Dissolved Solid (TDS) di luar ambang optimal mengakibatkan inefisiensi tinggi, pemborosan nutrisi, dan produktivitas yang stagnan. Tim UNP di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Yulkifli, S.Pd., M.Si., menjembatani kesenjangan ini dengan merekayasa sistem automasi berbasis Internet of Things (IoT). Mereka mengintegrasikan sensor pH dan TDS dengan mikrokontroler ESP32 untuk menciptakan mekanisme real-time feedback loop yang mengoreksi ketidakseimbangan nutrisi secara otonom. Validasi empiris membuktikan performa sistem yang sangat presisi dengan deviasi rata-rata hanya 2,8% untuk sensor pH dan 3,1% untuk sensor TDS, dengan kemampuan menjaga larutan nutrisi pada rentang ideal pH 6,1–6,4 dan TDS 730–765 ppm. Tingkat akurasi di bawah 5% ini menjadi fondasi kuat untuk menggantikan intervensi manusia yang sarat subjektivitas dengan keputusan berbasis data memangkas limbah nutrisi dan menstabilkan kualitas panen secara radikal.

Rangkaian diseminasi dibangun secara komprehensif untuk mendekonstruksi cara berpikir mitra dari tataran teoretis menuju analisis bisnis aplikatif. Pembukaan oleh Direktur Kerjasama, Riset dan Internasional UNP, Prof. Dr. Eng. Rusnardi Rahmat Putra, S.T., M.T., menegaskan komitmen institusional terhadap agenda ketahanan pangan sekaligus memperkuat posisi UNP dalam peta dampak global. Memasuki inti materi, Prof. Dr. Yulkifli memaparkan fusi teknologi instrumentasi sensor ke dalam sistem hidroponik modern yang diikuti demonstrasi perangkat, sebuah terobosan yang meruntuhkan sekat antara fisika instrumentasi dan praktik agronomi. Perspektif bisnis dipertajam oleh Alfi Yusri, S.Kom., yang mengurai peluang ekonomi hidroponik di lahan urban terbatas, sementara Dr. Resti Fevria, S.TP., M.P., secara saintifik menjelaskan formulasi nutrisi adaptif berbasis interpretasi data sensor untuk komoditas komersial. Roni Jarlis, S.Si., M.Pd., kemudian menutup sesi dengan analisis skalabilitas bisnis dan model kemitraan strategis. Alur pengetahuan ini membentuk spektrum holistik dari logika teknis-molekuler hingga strategi pasar makro sehingga mitra tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami rantai nilai ekonomi yang menyertainya.

Pembukaan oleh Direktur Kerjasama, Riset dan Internasional UNP, Prof. Dr. Eng. Rusnardi Rahmat Putra, S.T, M.T.,

Pelaksanaan FGD dalam dua tahap mengkristalisasi tiga pilar rekomendasi yang fundamental bagi ekosistem pertanian perkotaan berkelanjutan. Pertama, urgensi standarisasi sistem monitoring nutrisi berbasis IoT yang berbiaya rendah; langkah ini menjadi prasyarat agar adopsi teknologi tidak melahirkan ketimpangan baru di kalangan petani skala kecil. Kedua, penguatan kapasitas sumber daya manusia secara berkesinambungan yang tidak semata berfokus pada aspek teknis instalasi, melainkan pada pengembangan literasi data kemampuan petani menginterpretasi parameter nutrisi sebagai dasar pengambilan keputusan agronomis yang presisi. Ketiga, formalisasi jejaring kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan praktisi untuk membentuk support system yang solid, termasuk advokasi kebijakan insentif bagi pengadopsi teknologi hijau. Konsensus ini menegaskan bahwa teknologi, sekuat apa pun presisinya, hanya akan menghasilkan dampak sistemik jika disertai intervensi kelembagaan dan politik anggaran yang berpihak.

Dalam kacamata kontribusi terhadap metrik global, inisiatif ini menjadi bukti empiris impact pathway UNP dalam menyokong THE Impact Rankings. Kegiatan ini bukan sekadar mengerek posisi tawar universitas di tingkat internasional, melainkan secara nyata mengorkestrasi pencapaian multi-target Sustainable Development Goals (SDGs). Ia mengakselerasi SDG 2 (Zero Hunger) melalui intensifikasi produksi pangan perkotaan tanpa perluasan lahan; mendorong SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) lewat aplikasi teknologi sensor presisi; serta memperkuat SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui efisiensi penggunaan air dan nutrisi yang signifikan. Prof. Yulkifli menekankan bahwa gerakan ini merupakan konstruksi sosial-teknologi yang mentransformasi limbah nutrisi menjadi produk panen bernilai tinggi sebuah lompatan efisiensi yang vital bagi masa depan pangan urban. Dengan demikian, kontribusi terhadap peringkat dunia bukanlah tujuan terminal, melainkan efek ikutan dari keberhasilan institusi pendidikan menanamkan benih inovasi yang langsung dipanen oleh masyarakat dalam wujud kedaulatan pangan.

Ke depan, UNP berkomitmen memperluas cakrawala diseminasi ini melampaui seremonial menjadi program pendampingan terstruktur, sehingga model hidroponik presisi berbasis IoT dapat menjadi purwarupa nasional pertanian perkotaan. Sinergi transdisipliner yang terbentuk antara Prof. Yulkifli sebagai pakar sensor, Dr. Resti Fevria sebagai pakar nutrisi tanaman, Roni Jarlis dalam analisis biaya, dan praktisi Alfi Yusri adalah representasi efektivitas kolaborasi lintas bidang. Dengan mempertemukan kecanggihan instrumentasi fisika dan ketepatan agronomi dalam satu ekosistem digital, UNP tidak sekadar mencetak petani modern, melainkan turut membangun fondasi peradaban pangan yang resilien di tengah ketidakpastian iklim dan tekanan urbanisasi.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas dukungan pendanaan dan fasilitas penuh yang diberikan melalui Program Equity – THE Impact Rankings 2025/2026. Dukungan ini menjadi fondasi vital yang memungkinkan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian, mulai dari riset hingga diseminasi sistem hidroponik berbasis IoT, dapat terlaksana dengan optimal dan memberikan dampak langsung bagi penguatan ketahanan pangan perkotaan serta pencapaian target SDGs.