humas@unp.ac.id

Padang – Suasana Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) seketika berubah menjadi lebih hangat ketika nama Muhamad Rafi Iman Widyanto dipanggil menuju panggung penyerahan ijazah pada prosesi Wisuda ke-143 UNP hari kedua, Selasa (1/7/2026).
Tepuk tangan riuh apresiasi itu mengiringi langkah Rafi saat menerima ijazah dari Rektor, mahasiswa penyandang disabilitas netra dari Program Studi Pendidikan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), yang berhasil menuntaskan studinya tepat waktu.
Beberapa saat setelah itu, Rafi kembali naik panggung untuk pengisi hiburan pada prosesi wisuda. Jemarinya memetik gitar, menghadirkan alunan musik yang menghibur ribuan wisudawan, orang tua, dan tamu undangan. Tentunya ini menjadi momen istimewa baginya, tampil sebagai musisi sekaligus sebagai wisudawan.
Empat tahun lalu, Rafi memasuki UNP melalui jalur mandiri. Selama empat tahun menjalani perkuliahan, ia membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk menyelesaikan pendidikan tinggi.
“Alhamdulillah empat tahun,” ujarnya singkat saat ditanyai Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis disela-sela acara wisuda.

Saat diwawancarai, ia didampingi Randy Akbar, sahabat sekaligus teman seangkatannya yang kerap membantunya berjalan. Tak hanya itu Rafi menuturkan teman-teman di sendraltasik yang lain juga sering menuntunya berjalan sehingga ia tidak perlu menggunakan tongkatnya selama berada di kampus
Menurut Rafi, lingkungan belajar di FBS UNP semakin ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Berbagai fasilitas penunjang mobilitas telah tersedia dan terus berkembang. “Kalau di FBS sendiri, fasilitas disabilitas sudah mulai lengkap. Misalnya bidang datar untuk kursi roda, kemudian guiding block untuk pengguna tongkat bagi tunanetra. Di semua area FBS sudah ada guiding block dan sekarang ini sudah hampir diseluruh kawasan UNP,” ungkapnya.
Bagi sebagian orang, guiding block mungkin hanya terlihat sebagai jalur kuning di trotoar. Namun bagi Rafi, jalur tersebut menjadi penunjuk arah yang membantunya mengenali posisi dan menentukan langkah saat berjalan menggunakan tongkat.
Tak hanya fasilitas fisik, dukungan dari dosen dan teman-teman juga menjadi kekuatan tersendiri selama menjalani perkuliahan. “Untuk lingkungan teman-teman dan dosen, alhamdulillah semuanya support,” katanya.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Kesulitan terbesar yang ia hadapi adalah ketika harus memahami materi yang bersifat visual. “Kalau ada hal-hal yang berbau visual, Rafi agak susah mencerna. Jadi biasanya minta tolong teman-teman menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Informasi yang sifatnya visual memang harus ada perantara,” tuturnya.
Perkembangan teknologi turut membantunya mengikuti proses pembelajaran. Ia lebih sering memanfaatkan modul digital di e-learning dan mencari referensi ilmiah melalui Google Scholar yang dapat diakses menggunakan aplikasi pembaca layar.
“Rafi jarang sekali baca buku fisik. Biasanya baca artikel di Google Scholar. Kalau memang harus menggunakan buku fisik, Rafi minta tolong mama membacakannya,” ujarnya.
Di balik keberhasilannya meraih gelar sarjana, keluarga menjadi sumber kekuatan yang tidak pernah putus. Sang ibu kerap membantunya mempelajari materi kuliah, sementara adiknya bergantian mendampingi dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Teman-teman kuliah pun selalu hadir ketika ia membutuhkan bantuan, mulai dari menjelaskan materi hingga mendampinginya dalam berbagai kegiatan di kampus.

Kemampuan Rafi di bidang musik juga menjadi modal penting selama menempuh pendidikan. Selain gitar yang ia mainkan pada prosesi wisuda, ia juga menguasai bass dan keyboard dasar, serta berbagai alat musik tradisional Minangkabau seperti saluang, serunai, sampelong, dan talempong.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Rafi telah menyiapkan langkah berikutnya. “Insyaallah kalau ada rezekinya ingin lanjut S2 atau PPG,” katanya penuh harap.
Kisah Rafi menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif bukan hanya diwujudkan melalui penyediaan fasilitas yang ramah disabilitas, tetapi juga melalui budaya saling mendukung yang tumbuh di lingkungan kampus. (Utr/Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis)
SDGs: Feature ini mendukung implementasi SDG 4 – Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan pendidikan tinggi yang inklusif bagi penyandang disabilitas, SDG 10 – Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan) dengan mendorong kesetaraan akses dan kesempatan bagi seluruh mahasiswa, serta SDG 16 – Peace, Justice and Strong Institutions (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan budaya kampus yang inklusif dan menghargai keberagaman.
