humas@unp.ac.id

Oleh: Prof. Dr. Indang Dewata, M.Si. (Profesor Lingkungan Pertama di Sumatera Barat)
Realitas dunia saat ini telah mengalami pergeseran drastis. Sadar ataupun tidak, umat manusia kini hidup dalam sebuah babak baru yang dikenal sebagai era Antroposen (Anthropocene). Ini adalah sebuah masa kelam di mana rekam jejak dan aktivitas manusia menjadi faktor paling dominan dalam merusak sekaligus mengacaukan stabilitas ekosistem global.
Berbeda dengan siklus masa lalu di mana dinamika alam berubah secara organik, krisis ekologi modern dipicu langsung oleh ulah manusia. Akselerasi industri yang agresif, ekspansi urbanisasi yang tak terkendali, ditambah dengan masifnya pola produksi dan konsumsi menjadi akar masalahnya. Imbasnya, kita kini dikepung oleh ancaman nyata yang menakutkan, mulai dari krisis iklim, lautan yang dipenuhi sampah plastik, penurunan mutu lahan, hingga menyusutnya ruang hidup yang aman bagi peradaban.
Jika dirunut, benang merah dari carut-marut lingkungan ini bermuara pada keserakahan model ekonomi konvensional yang diagung-agungkan selama dua abad terakhir. Kita terlalu lama terlena dalam lingkaran Ekonomi Linier yang kaku dengan prinsip dasar: take-make-use-dispose (ambil, produksi, pakai, lalu buang). Sistem ini bekerja dengan asumsi keliru bahwa pasokan sumber daya alam tidak ada habisnya dan bumi memiliki kapasitas tanpa batas untuk menampung seluruh limbah hasil aktivitas kita.
Dalam jangka pendek, formula linier ini memang ampuh mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan kapasitas industri secara eksponensial. Namun untuk jangka panjang, model ini memicu dampak buruk (eksternalitas negatif) yang sangat masif. Secara tidak sadar, kita sedang menggadaikan keberlangsungan masa depan bumi hanya demi meraup keuntungan jangka pendek yang semu.
Di skala nasional, dampak kegagalan sistem linier ini kian nyata seiring melonjaknya angka urbanisasi dan kepadatan penduduk di Indonesia. Wilayah perkotaan dan pusat industri terus melebar, memicu konsekuensi logis berupa ledakan volume sampah, krisis air bersih, hingga kerusakan parah di wilayah pesisir. Sayangnya, mayoritas tata kelola lingkungan yang ada saat ini masih bersifat konvensional dan reaktif (end-of-pipe), yang mana pemerintah baru sibuk bertindak setelah limbah menumpuk. Strategi usang ini tidak hanya tidak efektif, tetapi juga mahal karena menguras anggaran APBD daerah hanya untuk memulihkan dampak kerusakan, alih-alih memutus akar masalahnya.
Oleh sebab itu, kita mendesak adanya perubahan paradigma radikal yang tidak lagi membenturkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Keduanya harus disinergikan lewat strategi Dekopling Ekonomi dan Ekologi. Secara konsep, dekopling merupakan langkah nyata untuk memisahkan antara grafik pertumbuhan ekonomi dengan tingkat eksploitasi alam serta tekanan lingkungan. Target utamanya adalah memastikan kesejahteraan masyarakat tetap tumbuh, sementara kerusakan ekosistem dan eksploitasi alam justru ditekan ke titik terendah.
Sejauh ini, mayoritas negara baru menyentuh level relative decoupling, sebuah kondisi di mana efisiensi teknologi mampu membuat laju kerusakan lingkungan berjalan lebih lambat dibanding pertumbuhan ekonomi. Padahal, kondisi bumi yang kian menua saat ini memerlukan absolute decoupling—sebuah kondisi ideal di mana ekonomi tetap bergerak maju, namun grafik pemakaian sumber daya dan kerusakan lingkungan benar-benar menurun drastis ke arah bawah.
Kunci utama untuk mewujudkan target tersebut adalah melalui transformasi total menuju Ekonomi Sirkuler (Circular Economy). Berkebalikan dengan ekonomi linier yang berjalan searah, ekonomi sirkuler didesain sebagai sistem yang memulihkan dan memperbarui (restoratif dan regeneratif) melalui model lingkar tertutup (closed-loop system). Merujuk pada tesis Kenneth Boulding (1966) lewat konsep Spaceship Earth, kita wajib memandang bumi layaknya kapal luar angkasa dengan ketersediaan logistik yang serba terbatas. Oleh karena itu, seluruh alur konsumsi dan produksi harus dikelola seefisien mungkin.
Lewat implementasi prinsip 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Refurbish, dan Repair), siklus hidup sebuah produk dan material dipaksa bertahan selama mungkin di dalam pusaran ekonomi. Dalam sistem sirkuler, konsep “sampah” atau “limbah” dieliminasi; sisa produksi tidak lagi dianggap sebagai kotoran yang tidak berguna, melainkan dikonversi menjadi bahan baku sekunder yang masuk kembali ke rantai produksi demi menghasilkan nilai ekonomi baru.
Kendati demikian, lompatan besar ini mustahil terwujud tanpa sokongan pembenahan regulasi melalui Smart Environmental Governance (Tata Kelola Lingkungan Cerdas). Model birokrasi lama yang hanya fokus pada penanganan di hilir terbukti mandul karena tidak menyentuh hulu masalah, yaitu desain awal produksi.
Melalui tata kelola lingkungan yang cerdas, fokus dialihkan pada langkah preventif (preventive governance) dengan mengoptimalkan penetrasi teknologi digital abad ke-21. Pemanfatan Kecerdasan Buatan (AI), Internet of Things (IoT), serta pengolahan big data digunakan untuk mendongkrak akurasi pengambilan kebijakan lingkungan secara langsung (real-time). Langkah transformatif ini membutuhkan kerja sama erat dari tiga pilar utama:
Pada akhirnya, peralihan menuju ekonomi sirkuler di Indonesia bukan lagi sekadar alternatif atau sekadar tren gaya hidup hijau. Ini adalah instrumen strategis demi membangun ketahanan (resiliensi) ekosistem sekaligus menyukseskan target pembangunan berkelanjutan. Antroposen memberikan tamparan keras bahwa kelestarian alam tidak akan pernah terwujud lewat kebijakan lingkungan yang setengah-setengah (parsial). Kita memerlukan revolusi berpikir yang mendasar dalam cara manusia memproduksi barang, mengonsumsi sumber daya, serta menghargai alam. Pertanyaan krusial yang wajib kita renungkan hari ini bukanlah seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi yang bisa kita kejar, melainkan apakah pembangunan yang kita banggakan saat ini sanggup berjalan tanpa merampas hak dan kemampuan bumi dalam menopang kehidupan generasi penerus. Langkah dan tindakan nyata kita detik ini yang akan mendikte arah jalannya peradaban manusia di masa depan.
