Konvensi Pendidikan Nasional Soroti Adopsi AI hingga Tata Kelola Guru Menuju Indonesia Emas 2045

Bali— Tantangan disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hingga pembenahan mendasar tata kelola guru menjadi fokus utama dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) XII hari kedua yang berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Jumat (2/10). Forum bergengsi para pemikir dan pengambil kebijakan pendidikan nasional ini mempertegas komitmen akselerasi transformasi sistem belajar demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

Kegiatan strategis ini turut dihadiri dan diikuti secara aktif oleh Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) Dr. Ir. Krismadinata, S.T., M.T., jajaran Rektor Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia, serta ratusan delegasi Konaspi dari berbagai perguruan tinggi dan institusi pendidikan nasional.

Konvensi ini menghadirkan jajaran tokoh kunci lintas sektor, antara lain Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A.; Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T.; serta Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd.
Turut memperkuat pandangan konvensi, hadir Wakil Rektor IV Universitas Indonesia Prof. Agus Setiawan, S.Kp., M.N., D.N.; Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A.; Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T.; Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si.; Prof. Ganefri, Ph.D. (UNP); serta Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd. (UM).

Dalam paparannya, Dirjen Saintek Ahmad Najib Burhani menegaskan bahwa kemajuan pesat AI, termasuk era Superintelligence (ASI), telah merevolusi tatanan kreativitas serta batasan plagiarisme di lingkungan akademik.
“Kita sebagai insan akademik harus adaptif, mampu mengadopsi AI secara etis, dan memanfaatkan teknologi ini untuk mengakselerasi transformasi pendidikan ke depan,” tegas Najib seraya menyinggung penguatan inisiatif strategis seperti PPG dan program Sekolah Garuda.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Belmawa Beny Bandanadjaja menggarisbawahi urgensi kurikulum transformatif yang inklusif. Menurutnya, pendidikan tidak sekadar memperluas daya jangkau, melainkan wajib berdampak nyata dan adaptif terhadap dinamika pasar kerja global.

“Inklusif bukan berarti semua peserta didik diperlakukan sama rata, melainkan memastikan setiap individu memperoleh dukungan tepat sesuai potensi dan kebutuhannya tanpa ada yang tertinggal,” jelas Beny.

Sementara itu, Dirjen GTK Nunuk Suryani menyoroti persoalan menahun terkait kekosongan guru aparatur sipil negara (ASN) di sekolah-sekolah negeri. Ia memaparkan bahwa pemenuhan formasi ASN PPPK secara berkelanjutan sejak 2021 hingga 2024 serta kolaborasi program sertifikasi lewat Pendidikan Profesi Guru (PPG) bersama LPTK menjadi kunci vital restrukturisasi profesi guru nasional.

“Melalui kolaborasi dengan LPTK dan reformasi PPG, kualitas serta standar profesionalisme pendidik terus kami dorong agar setara dengan profesi-profesi terkemuka lainnya,” papar Nunuk.
Melengkapi agenda konvensi pleno, kegiatan hari kedua Konaspi XII juga dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD) mendalam yang membedah enam isu krusial:
– Strategi Pengembangan Kurikulum Transformatif dan Mudah Diadaptasi terhadap Perubahan Konteks Lokal dan Global.
– Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi yang Responsif terhadap Kebutuhan Industri dan Pasar Kerja yang Dinamis.
– Analisis Kritis terhadap RUU Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).
– Revitalisasi LPTK melalui Reformasi PPG.
Menggali dan Menguatkan Filosofi Pendidikan Indonesia sebagai Dasar Transformasi Sistem Pendidikan Nasional.
– Strategi Nasional Peningkatan Hasil PISA Indonesia melalui Transformasi Pembelajaran, Penguatan Kompetensi Guru, dan Reformasi Asesmen. (Sar/KKPS UNP)