UNP Bentuk Pusat Riset Etnobiologi Sumatera, Perkuat Pelestarian Alam Berbasis Kearifan Lokal

Padang – Universitas Negeri Padang (UNP) melalui Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) bersama Kelompok Riset Keanekaragaman Hayati Sumatera (KHS) mendeklarasikan pembentukan Pusat Riset Etnobiologi Sumatra, Selasa (27/10/2026), di Ruang Sidang Lantai 1 FMIPA UNP.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis (KKPS), Senin (2/11/2026) pembentukan pusat riset ini bertujuan mengembangkan penelitian yang menghubungkan keanekaragaman hayati, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal masyarakat Sumatera untuk mendukung pelestarian lingkungan. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Diaspora Berdampak 2026 ini mengangkat tema “Keselarasan Alam, Pengetahuan, Nagari, dan Budaya dalam Kajian Etnobiologi Sumatera”.

Wakil Dekan FMIPA UNP, Prof. Dr. Yuni Ahda, S.Si., M.Si., menyampaikan dukungan fakultas terhadap penguatan riset berbasis keanekaragaman hayati dan kearifan lokal. Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual LPPM UNP, Dr. Hendra Hidayat, S.Pd., M.Pd., berharap pusat riset ini dapat berkembang dan memberikan kontribusi di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam pemaparan materi, Reki Kardiman, Ph.D., menjelaskan bahwa etnobiologi mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan alam, termasuk cara masyarakat mengenali, memanfaatkan, dan menjaga keanekaragaman hayati. Menurutnya, alih fungsi hutan, pencemaran, pembangunan, dan modernisasi menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui penelitian, dokumentasi pengetahuan lokal, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Gagasan tersebut dibahas lebih lanjut melalui sesi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan akademisi, peneliti, praktisi, lembaga adat, pemerintah, dan mitra internasional. Prof. Dr. Syakirah dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia dan Dr. Evelyn Lim dari Universiti Putra Malaysia melihat peluang kerja sama dalam bidang konservasi biodiversitas dan kajian pengetahuan masyarakat lokal.

Dari kalangan akademisi, Dr. Wilson Novarino dan Nurainas dari Universitas Andalas serta Wita Yulianti dari BRIN menyoroti pentingnya bioprospeksi, penguatan koleksi ilmiah, dan dokumentasi pengetahuan lokal. Sementara itu, perwakilan LKAAM, dosen Sosiologi UNP, serta sejumlah instansi konservasi dan kehutanan menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai adat, budaya, dan kebijakan lingkungan dalam pengembangan riset etnobiologi.

Kepala Pusat Penelitian, Publikasi, dan HKI LPPM UNP, Dr. Hendra Hidayat, juga menyampaikan perlunya tata kelola pusat riset yang matang, dukungan pendanaan penelitian, serta kolaborasi hingga tingkat internasional.

Kegiatan ditutup dengan penayangan video peresmian dan pembacaan deklarasi pembentukan Pusat Riset Etnobiologi Sumatra.

Pembentukan pusat riset ini mendukung SDGs 15 tentang Ekosistem Daratan melalui penelitian dan pelestarian keanekaragaman hayati. Upaya ini juga sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan pengetahuan lokal dalam pembelajaran serta SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademisi, pemerintah, masyarakat adat, lembaga penelitian, dan mitra internasional.