humas@unp.ac.id

Oleh: Ridwan Tulus
Adalah suatu penghormatan buat saya ketika guru besar yang saya kagumi ini menghubungi saya dan meminta saya untuk menemani beliau menjadi salah satu pembicara dalam acara Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan di Rumah Gadang – Sumpu Singkarak.
Acara yang akan berlangsung tanggal 7-8 November dengan pesertanya dari Wali Nagari, Bundo Kanduang, KAN, BPRN, Tokoh Masyarakat serta Komunitas setempat.
Dan kebetulan Nagari Sumpu punya sejarah tersendiri buat saya ketika saya diminta khusus oleh almarhum Prof. Eko Alvarez meminta saya dulunya untuk membantu beliau untuk menjadikan nagari tersebut menjadi destinasi wisata.
Dan akhirnya kami bertiga berusaha menjadikan nagari Sumpu sebagai Kampoeng Inspirasi dan menjadikan nagari tersebut sebagai percontohan Green Tourism Destination.
Menjadikan Gastronomi sebagai Warisan Sejarah, Identitas Budaya, dan Kekuatan Diplomasi Bangsa
Di balik sepiring rendang yang dikenal luas hingga mancanegara, sesungguhnya tersimpan perjalanan panjang sejarah, kebudayaan, pengetahuan, dan peran perempuan yang tidak selalu mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya.
Rendang bukan sekadar makanan. Ia adalah representasi identitas, kearifan lokal, filosofi kehidupan, dan perjalanan peradaban masyarakat Minangkabau.
Untuk memahami kekayaan tersebut, diperlukan lebih dari sekadar kemampuan memasak atau mengenali cita rasa. Dibutuhkan penelitian, pemahaman sejarah, dan keberanian untuk melihat makanan sebagai bagian penting dari warisan intelektual sebuah bangsa.
Dalam konteks inilah nama Prof. Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum., Guru Besar Departemen Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (UNP), patut mendapatkan perhatian lebih luas di tingkat nasional.
Beliau merupakan salah satu akademisi perempuan Minangkabau yang memberikan perhatian terhadap pengembangan ilmu sejarah, kebudayaan, dan kajian gastronomi. Melalui karya dan penelitiannya, beliau membuka perspektif bahwa makanan tradisional sesungguhnya menyimpan pengetahuan yang sangat berharga bagi perjalanan sebuah masyarakat.
Lebih dari Sekadar Sejarah Makanan
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah buku Rendang: Sejarah, Budaya, dan Perempuan.
Judul buku ini sendiri memberikan pesan penting. Rendang tidak hanya dibicarakan dari sisi resep, bahan, atau teknik memasak, tetapi juga ditempatkan dalam konteks sejarah, kebudayaan, dan kontribusi perempuan.
Pendekatan ini menjadi penting karena selama ini kekayaan kuliner Nusantara sering kali lebih banyak diperkenalkan melalui kelezatan dan popularitasnya. Padahal, di balik setiap makanan tradisional terdapat cerita tentang perjalanan masyarakat, hubungan antargenerasi, lingkungan, perdagangan, adat istiadat, dan sistem pengetahuan lokal.
Rendang adalah salah satu contoh paling menarik.
Dalam kebudayaan Minangkabau, makanan memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan adat. Proses memasak, pemilihan bahan, penggunaan rempah, hingga penyajiannya dalam berbagai kegiatan adat merupakan bagian dari pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sinilah peran perempuan menjadi sangat penting.
Perempuan Minangkabau bukan sekadar pelaksana tradisi memasak. Mereka merupakan penjaga pengetahuan, pewaris kebudayaan, pendidik keluarga, sekaligus bagian penting dari keberlanjutan identitas masyarakat.
Melalui kajian gastronomi, kontribusi tersebut dapat didokumentasikan, diteliti, dan diperkenalkan kepada generasi yang lebih luas.
Dari Rendang Lokan hingga Identitas Masyarakat Pesisir
Kedalaman kajian Prof. Siti Fatimah juga terlihat dalam penelitian mengenai Rendang Lokan yang menghubungkan sejarah, identitas budaya, dan adaptasi pangan masyarakat Minangkabau.
Kajian ini menarik karena memperlihatkan bahwa gastronomi tidak dapat dipisahkan dari kondisi geografis dan sumber daya alam.
Masyarakat pesisir memiliki hubungan yang berbeda dengan lingkungan dan sumber pangan dibandingkan masyarakat pedalaman. Perbedaan tersebut melahirkan kreativitas kuliner yang menjadi bagian dari identitas lokal.
Rendang lokan memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan alam pesisir dan mengolahnya menjadi warisan kuliner yang memiliki karakter tersendiri.
Perspektif seperti ini penting bagi Indonesia yang memiliki ribuan pulau, beragam ekosistem, dan kekayaan tradisi pangan.
Setiap daerah sesungguhnya memiliki cerita gastronomi yang layak diteliti dan diperkenalkan. Mulai dari makanan masyarakat pesisir, kuliner pegunungan, tradisi pangan masyarakat adat, hingga berbagai produk pangan yang lahir dari kearifan lokal.
Dengan demikian, gastronomi dapat menjadi jembatan antara sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pembangunan ekonomi masyarakat.
Perempuan Minangkabau dan Warisan Peradaban
Ada satu hal yang menarik ketika membicarakan Prof. Siti Fatimah dalam konteks perempuan Minangkabau.
Masyarakat Minangkabau dikenal memiliki sistem kekerabatan matrilineal yang memberikan posisi penting kepada perempuan dalam keberlanjutan garis keturunan dan pewarisan harta pusaka.
Namun, peran perempuan Minangkabau sesungguhnya tidak berhenti pada ruang keluarga dan adat.
Sejarah mencatat banyak perempuan Minangkabau yang memberikan kontribusi dalam pendidikan, pemikiran, perjuangan, dan kehidupan sosial bangsa.
Dalam konteks kekinian, kehadiran perempuan akademisi seperti Prof. Siti Fatimah memperlihatkan bahwa tradisi intelektual perempuan Minangkabau terus berkembang.
Beliau tidak hanya berkiprah dalam dunia pendidikan tinggi dan sejarah, tetapi juga mengangkat isu kebudayaan melalui pendekatan penelitian yang dapat memberikan perspektif baru bagi masyarakat.
Pengalaman beliau sebagai mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNP serta berbagai keterlibatan dalam organisasi akademik juga memperlihatkan perjalanan kepemimpinan perempuan di lingkungan perguruan tinggi.
Sosok seperti ini layak diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan sumber daya intelektual perempuan Indonesia.
Gastronomi: Kekuatan Baru Diplomasi Budaya Indonesia
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan gastronomi sebagai salah satu kekuatan diplomasi budaya.
Selama ini, rendang telah menjadi salah satu wajah kuliner Indonesia yang dikenal masyarakat internasional. Namun, memperkenalkan rendang seharusnya tidak berhenti pada promosi makanan.
Dunia perlu mengetahui cerita di baliknya.
Siapa yang mewariskan pengetahuan memasaknya? Bagaimana sejarahnya berkembang? Apa filosofi yang terkandung di dalamnya? Bagaimana hubungan makanan tersebut dengan alam, pertanian, perdagangan, dan kehidupan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadikan gastronomi memiliki nilai lebih dari sekadar industri makanan.
Pemikiran dan karya akademisi seperti Prof. Siti Fatimah dapat menjadi modal penting untuk membangun diplomasi gastronomi Indonesia yang berbasis pengetahuan dan penelitian.
Buku-buku gastronomi Indonesia juga perlu diperkenalkan melalui penerjemahan, seminar internasional, kolaborasi universitas, festival kebudayaan, dan program pertukaran akademik.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang memiliki makanan lezat, tetapi juga sebagai bangsa yang mempunyai tradisi pengetahuan pangan yang kaya dan berakar kuat pada sejarahnya.
Menghubungkan Gastronomi dengan Pariwisata Berkelanjutan
Peluang lain yang tidak kalah penting adalah menghubungkan kajian gastronomi dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Bayangkan jika wisatawan mancanegara datang ke Sumatera Barat bukan hanya untuk menikmati rendang, tetapi juga mempelajari sejarahnya, mengunjungi nagari penghasil bahan pangan, bertemu perempuan penjaga tradisi kuliner, belajar memasak, dan memahami hubungan makanan dengan alam serta adat Minangkabau.
Pengalaman seperti ini dapat dikembangkan menjadi produk wisata gastronomi yang memiliki nilai edukasi dan ekonomi.
Di sinilah diperlukan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku pariwisata, perguruan tinggi, komunitas perempuan, dan masyarakat lokal.
Pengetahuan akademik dapat menjadi fondasi pengembangan produk wisata, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi.
Prinsipnya sederhana: budaya harus dilindungi, alam harus dijaga, dan masyarakat lokal harus diberdayakan.
Gastronomi dengan demikian tidak hanya menjadi sarana promosi daerah, tetapi juga instrumen untuk memperkuat ekonomi masyarakat dan menjaga keberlanjutan kebudayaan.
Saatnya Memberikan Ruang Lebih Besar bagi Perempuan Intelektual Minangkabau
Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang untuk memperkenalkan perempuan-perempuan yang memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Prof. Dr. Siti Fatimah merupakan salah satu sosok yang menarik untuk diperkenalkan lebih luas melalui karya, penelitian, dan pemikirannya mengenai sejarah serta gastronomi Minangkabau.
Penghargaan terhadap seorang akademisi tidak cukup hanya melalui jabatan, gelar, atau posisi yang pernah diemban. Kontribusi intelektualnya perlu disebarluaskan agar dapat dibaca, dipelajari, dikembangkan, dan memberikan inspirasi bagi generasi berikutnya.
Sudah saatnya karya tentang Rendang: Sejarah, Budaya, dan Perempuan mendapatkan ruang pembicaraan yang lebih luas, tidak hanya di lingkungan akademik Sumatera Barat, tetapi juga dalam diskursus kebudayaan dan gastronomi Indonesia.
Bahkan, gagasan untuk membangun gerakan Minangkabau Women & Gastronomy Movement dapat menjadi langkah strategis untuk mendokumentasikan pengetahuan perempuan, mengangkat kuliner tradisional, serta memperkenalkan gastronomi Minangkabau kepada dunia.
Gerakan ini bukan semata-mata tentang satu buku atau satu tokoh. Lebih jauh, gerakan ini merupakan upaya menghargai perempuan yang selama berabad-abad menjaga warisan pengetahuan melalui kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya mewariskan bangunan bersejarah, benda pusaka, atau catatan tertulis. Bangsa juga mewariskan pengetahuan melalui makanan, tradisi, dan tangan-tangan perempuan yang menjaga keberlangsungannya.
Sebab, dari sebuah dapur tradisional, sesungguhnya kita dapat membaca perjalanan panjang sebuah peradaban.
Dan dari rendang, Indonesia memiliki cerita besar yang layak disampaikan kepada dunia.
Terima kasih Prof. Siti Fatimah
Thanks for being a Green Friend of Indonesia !





