humas@unp.ac.id

Padang — Sebanyak 10 anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sumatera Barat mengikuti pelatihan kerajinan kawat bulu yang digelar mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Departemen Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Padang (UNP) di Permindo Coffee & Eatry, Kota Padang, Senin (21/9/2026). Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan membuat, mengemas, dan memasarkan kerajinan bernilai jual untuk membuka peluang usaha mandiri.
Kegiatan bertajuk Peningkatan Keterampilan Kreatif melalui Pelatihan Kerajinan Kawat Bulu bagi Mitra HWDI Sumatera Barat tersebut melibatkan 12 mahasiswa PPG PLB UNP Gelombang 1 Tahun 2026 di bawah bimbingan dosen pengampu Dra. Elsa Efrina, S.Pd., M.Pd.
Ketua Pelaksana, Kintan Annisa Illahia, S.Pd., mengatakan pelatihan ini berangkat dari hasil observasi dan wawancara dengan pengurus HWDI Sumatera Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa anggota HWDI memiliki minat tinggi terhadap keterampilan tangan, tetapi masih membutuhkan pengembangan keterampilan serta pendampingan dalam pengemasan dan pemasaran produk.
“Dari wawancara dengan pengurus HWDI, kami melihat teman-teman anggota punya semangat besar untuk berkarya. Tapi keterampilannya masih terbatas dan belum banyak yang mendampingi soal pengemasan dan pemasaran. Karena itu kami memilih kawat bulu, bahannya murah, mudah dipelajari, dan peluang pasarnya bagus,” kata Kintan.

Kawat bulu atau chenille/pipe cleaner dipilih karena lentur, terjangkau, mudah dibentuk, serta tidak memerlukan peralatan dan keahlian teknis yang rumit. Bahan ini dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti buket bunga, gantungan kunci, dan hiasan meja, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai produk usaha kreatif.
Buket bunga dari kawat bulu juga menjadi alternatif hadiah untuk berbagai kesempatan, seperti wisuda dan momen spesial lainnya. Hal ini membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar.
Dosen pengampu kegiatan, Dra. Elsa Efrina, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Projek Kepemimpinan dalam program PPG. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai pembelajaran di kelas, tetapi juga mampu merancang dan melaksanakan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan penyandang disabilitas.
“Projek kepemimpinan ini mengajak mahasiswa PPG tidak hanya piawai di kelas, tetapi juga hadir langsung untuk masyarakat. Lewat pelatihan ini mereka belajar merencanakan, berkolaborasi, dan memimpin kegiatan, sekaligus berbagi manfaat bagi teman-teman perempuan disabilitas,” kata Elsa.
Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB dengan registrasi peserta, pembukaan, serta sambutan dari ketua pelaksana, Ketua HWDI Sumatera Barat, dan dosen pembimbing. Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dan demonstrasi pembuatan bunga dari kawat bulu oleh narasumber Silvia.
Setelah istirahat dan makan siang, peserta mempraktikkan langsung pembuatan serta pengemasan buket bunga dengan pendampingan mahasiswa hingga kegiatan berakhir pukul 16.00 WIB. Dosen pembimbing juga menyerahkan plakat dan sertifikat kepada narasumber dan peserta.

Salah seorang peserta, Masrosdawati, mengaku senang dapat mengikuti pelatihan tersebut karena memperoleh keterampilan baru yang bisa dipraktikkan secara mandiri.
“Senang sekali bisa ikut pelatihan ini. Bahannya mudah didapat dan cara membuatnya tidak rumit, jadi kami yang baru belajar pun bisa mengikuti. Kami berharap ke depan bisa membuat sendiri di rumah dan menjualnya,” ujar Masrosdawati.
Apresiasi juga disampaikan perwakilan Bendahara HWDI Sumatera Barat, Silvia Piabong. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan alternatif keterampilan baru bagi anggota HWDI yang berminat mengembangkan usaha kerajinan tangan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa PPG UNP yang telah memberikan pelatihan ini. Anggota kami memang berminat pada keterampilan tangan, dan kawat bulu ini jenis kerajinan baru yang mudah dipelajari serta punya peluang pasar. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan membantu anggota HWDI lebih mandiri secara ekonomi,” ungkapnya.
Pelatihan ini juga menjadi salah satu upaya memperluas akses keterampilan dan peluang ekonomi bagi perempuan penyandang disabilitas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat pekerja penyandang disabilitas hanya sekitar 0,81 persen dari total penduduk bekerja di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan masih perlunya upaya untuk memperkuat kesempatan kerja dan pemberdayaan ekonomi bagi kelompok disabilitas, sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Ke depan, peserta diharapkan dapat terus mengembangkan keterampilan secara mandiri dan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada anggota HWDI lainnya melalui pelatihan antarsesama (peer training). Tim PPG UNP juga mendorong terbentuknya kelompok usaha kecil berbasis kerajinan kawat bulu di lingkungan HWDI Sumatera Barat agar keterampilan tersebut dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi kreatif komunitas.
“Harapan kami, teman-teman HWDI bisa terus berlatih, membuat produk sendiri, dan membagikan ilmunya kepada anggota lain. Semoga kawat bulu ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan dan menumbuhkan kepercayaan diri,” tutup Kintan.
Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan). Melalui pelatihan keterampilan kreatif ini, UNP berupaya memperluas kesempatan perempuan penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi, meningkatkan kemandirian ekonomi, dan memperoleh peluang usaha yang lebih inklusif.(Dok: [Luvia Fauziah S.Pd/Tim Dokumentasi PPG UNP])
