Riset Kolaboratif UNP dan Diskop UKM Sumbar: Transformasi Digital Mampu Tingkatkan Pendapatan UMKM hingga 20 Persen

Payakumbuh – Dalam rangka memperkuat kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menghadapi percepatan ekonomi digital pascapandemi. Universitas Negeri Padang (UNP) bersama Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat melaksanakan riset kolaboratif di Payakumbuh Sumatera Barat.

Riset tersebut dipimpin oleh Tim Peneliti Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) UNP yang terdiri atas Dr. Yasdinul Huda, S.Pd., M.T. selaku Ketua Mitra UNP, Dr. Rino, S.Pd., M.Pd., MM., Dr. Zul Afdal, M.Pd., dan Dra. Armida S., M.Si. sebagai anggota.

Dr. Yasdinul pada Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Digital dan Ketahanan Sosial Pasca Pandemi: Studi Komparatif Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia dan Asia Tenggara” di Hotel UNP, kegiatan yang merupakan bagian dari riset kolaboratif itu  menegaskan bahwa transformasi digital tidak semata-mata persoalan teknologi, melainkan sangat ditentukan oleh kekuatan modal sosial dan kolaborasi masyarakat.

Ia yang juga menjabat Kepala Pusat Pengabdian dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNP itu mengungkapkan bahwa transformasi digital harus dibangun secara inklusif melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, meliputi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. 

“Pemerataan infrastruktur digital, penguatan literasi digital, pengembangan kelembagaan ekonomi lokal, serta pemberdayaan kelompok rentan menjadi langkah strategis dalam memperkokoh ketahanan sosial dan ekonomi pascapandemi,” ungkapnya.

Berdasarkan riset terhadap 90 pelaku UMKM dan 10 pengelola BUMNag dari wilayah Payakumbuh, Lima Puluh Kota, dan Agam, tim peneliti mengungkap sejumlah temuan kunci mengenai profil dan perilaku digital masyarakat. Diantaranya riset menunjukkan bahwa 81,2 persen responden adalah perempuan. Temuan ini menegaskan peran sentral kaum ibu dalam menggerakkan ekonomi digital keluarga di Sumatera Barat. 

Usia Produktif dan Adaptif. Sebanyak 73,8 persen pelaku usaha berada pada rentang usia 25–44 tahun, kelompok yang dinilai paling cepat menyerap dan mengaplikasikan teknologi baru, dampaknya terbukti mampu meningkatkan pendapatan usaha lebih dari 20 persen sekaligus memperluas jangkauan pemasaran hingga mancanegara. 

Kekuatan Gotong Royong, nilai solidaritas mendapat skor tinggi, yakni 4,31, menjadi perekat utama yang menjaga ketahanan komunitas tetap stabil meskipun dilanda krisis pandemi. Di sisi lain, persepsi pelaku usaha terhadap efisiensi digital juga sangat tinggi dengan skor 4,68. 

“Namun, penelitian mengidentifikasi sejumlah tantangan structural seperti Kesenjangan infrastruktur masih terlihat jelas, di mana wilayah perkotaan memiliki fasilitas lebih memadai (skor 3,95) dibanding pedesaan (3,48). Keterbatasan perangkat juga menjadi kendala, dengan 52,5 persen responden hanya mengandalkan ponsel pintar, yang membatasi produktivitas dibandingkan pengguna laptop. Selain itu, pelatihan pemasaran digital berbahasa Inggris masih minim, dengan skor rendah 3,18, sehingga menghambat daya saing UMKM di pasar global,” berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis, Minggu (26/7/2026).

Sementara itu, Ir. Rina Morita, M.Si., Fungsional Pengembangan Kewirausahaan Ahli Madya dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat menyoroti bahwa perekonomian daerah sangat bergantung pada kemampuan 740.347 unit UMKM di Sumatera Barat untuk beradaptasi dengan teknologi. Dari jumlah tersebut, sekitar 99,73 persen merupakan usaha mikro, sehingga penguatan kapasitas pelaku usaha menjadi keniscayaan.

“Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus menggerakkan berbagai program pemberdayaan, seperti penumbuhan wirausaha baru, pelatihan kewirausahaan, fasilitasi akses pembiayaan, sertifikasi halal, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pemasaran. Selain itu, hadir pula Klinik UMKM Minang Bangkit yang berfungsi sebagai pusat konsultasi bagi pelaku usaha terdampak bencana, khususnya dalam aspek pembiayaan, pemasaran, dan pemulihan produksi,” terangnya

FGD ini diikuti sekitar 100 peserta, terdiri atas 30 pelaku UMKM Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai representasi wilayah sub urban, 30 pelaku UMKM Kota Payakumbuh mewakili kawasan urban, 30 pelaku UMKM Kabupaten Agam dari wilayah rural, serta 10 pengelola Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag). Para peserta tidak hanya menerima pemaparan materi, tetapi juga dilibatkan dalam diskusi mendalam mengenai tantangan dan pengalaman di masing-masing wilayah. 

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan daya saing dan produktivitas UMKM, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui percepatan transformasi digital dan inovasi pelaku usaha, SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan mendorong pemberdayaan kelompok rentan dan pemerataan akses digital, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals). (LPPM/Utr/Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis)