UNP dan Tiga PTN-BH Luncurkan Aplikasi Basamo NCH, Wujud Nagari Tangguh & Mandiri

Dokumen tim PKMI 2026
Dokumen tim PKMI 2026

Padang – Universitas Negeri Padang (UNP) resmi memimpin pelaksanaan Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026, sebuah inisiatif strategis yang mengintegrasikan literasi digital, penguatan ekonomi lokal, dan mitigasi bencana berbasis teknologi di tiga nagari di Sumatera Barat. Kegiatan yang berlangsung pada 5–7 Agustus 2026 ini menyasar Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu di Kabupaten Lima Puluh Kota, Nagari Pangian di Kabupaten Tanah Datar, serta Nagari Koto Tangah di Kabupaten Agam.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis, Jumat (14/8/2026) program ini menjadi bukti nyata sinergi antar perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) di bawah koordinasi UNP, yang menggandeng Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Terbuka (UT), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai mitra kolaboratif.

Ketua tim PMKI UNP, Dr. Yasdinul Huda, S.Pd., M.T., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan hasil riset dan pendidikan yang langsung menyentuh kebutuhan riil masyarakat.

“Filosofi program ini berakar pada kearifan lokal Minangkabau, yaitu ‘Alam Takambang Jadi Guru’ dan semangat gotong royong ‘basamo’. Kami tidak sekadar menaruh alat sensor atau komputer di nagari, tetapi membangun kapasitas manusianya secara berjenjang agar teknologi benar-benar memberi manfaat dan dapat dikelola secara mandiri,” ujar Dr. Yasdinul dalam sambutannya di Nagari Pangian, yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Sumatera Barat, Ir. Yozarwardi Usama Putra, S.Hut., M.Si., IPU.

Inti dari program PMKI 2026 adalah pengembangan dan pendampingan ‘Smart Learning Center’, ‘Medan Nan Balinduang’ berbasis Platform Digital Basamo Nagari Creative Hub (NCH). Platform ini dirancang sebagai ruang bersama yang menghubungkan empat pilar utama pengembangan nagari: ‘Teras Nagari’ sebagai pusat data dan informasi pembangunan, ‘Medan Nan Balinduang’ sebagai pusat pembelajaran digital, ‘Medan Nan Bapaneh’ untuk dokumentasi budaya dan inovasi, serta ‘Lapau Nagari’ sebagai etalase ekonomi digital dan promosi produk UMKM.

Melalui Teras Nagari, operator nagari dapat mengelola data pembangunan desa, termasuk indikator SDGs Desa, secara terintegrasi. Sementara Medan Nan Balinduang menyediakan modul pelatihan, evaluasi, dan ruang diskusi yang dapat diakses warga melalui akun pribadi. Lapau Nagari memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memamerkan profil produk, informasi penelusuran, hingga promosi digital yang terhubung dengan pasar yang lebih luas.

Pada sesi pelatihan yang berlangsung intensif, para peserta mempraktikkan pengelolaan akun dan data nagari, digitalisasi informasi UMKM, serta pemanfaatan materi belajar digital. Setiap nagari kini memiliki wajah digitalnya sendiri yang tetap terhubung dalam satu ekosistem, sehingga layanan memiliki identitas lokal sekaligus dapat dipantau secara lintas nagari.
Penguatan UMKM dan Kader Digital Lokal

Salah satu fokus utama program adalah pemberdayaan pelaku UMKM melalui strategi pemasaran digital yang adaptif. Narasumber Hafiz Elmi, S.Pd., M.Pd.T., dosen bisnis digital FE UNP membekali peserta dengan teknik praktis mengenali pelanggan, memilih platform promosi yang tepat, menyusun konten menarik, serta menjaga interaksi dengan konsumen. Pelatihan juga mencakup praktik langsung fotografi produk, penulisan caption, hingga publikasi di Instagram, WhatsApp Business, marketplace, dan Google Business Profile.

“Kami ingin pelaku UMKM tidak hanya mampu memproduksi barang, tetapi juga cakap memasarkannya secara digital. Dengan indikator sederhana seperti jangkauan, interaksi, klik, dan konversi, mereka dapat mengevaluasi strategi promosi secara berkala,” jelas Hafiz Elmi.

Sementara itu, Mukhtarijal, S.Kom., memfasilitasi pelatihan kader digital nagari melalui portal https://basamonch.com/. Para kader dibekali keterampilan mengelola akun dan data nagari, memanfaatkan ruang belajar digital, serta membaca dasbor pemantauan lingkungan dan sistem IoT. Pembekalan ini disiapkan agar kader mampu menjalankan layanan, membantu warga, dan menjaga keberlanjutan ekosistem digital nagari setelah masa pendampingan berakhir.

Selain literasi digital dan penguatan ekonomi, PMKI 2026 juga menghadirkan inovasi teknologi mitigasi bencana. Sistem peringatan dini berbasis ‘Internet of Things’ (IoT) dipasang untuk memantau tinggi muka air, curah hujan, dan kualitas air secara real-time. Data sensor dikirim ke dasbor Basamo yang dapat diakses secara daring, memungkinkan deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi bencana.

Di Nagari Pangian, sistem ini bahkan dilengkapi dengan panel surya sebagai sumber energi alternatif ketika cuaca ekstrem mengganggu pasokan listrik. Radio komunikasi darurat juga disiapkan untuk koordinasi ketika jaringan seluler atau internet terganggu. Setiap ‘Smart Learning Center’ dilengkapi perangkat komputer, proyektor, koneksi jaringan, dan bahan ajar digital sebagai sarana pelatihan berkelanjutan.

Tim UNJ yang dipimpin Prof. Dr. Efri Sandi, S.Pd., M.T., turut memperkuat penerapan sistem peringatan dini dan komunikasi darurat, dengan melatih delapan kader digital di Nagari Pangian untuk mengoperasikan perangkat, memantau data sensor, serta melakukan perawatan dasar dan penyebaran informasi peringatan kepada masyarakat.

PMKI 2026 tidak berhenti pada kegiatan tiga hari. Dalam periode pendampingan April–November 2026, tim konsorsium akan melanjutkan penguatan operator, penyempurnaan modul, kalibrasi perangkat, dan ‘Training of Trainers’ (ToT) agar pelatih lokal dapat membuka kelas literasi digital secara mandiri.

Keberlanjutan juga didorong melalui pembentukan pengelola digital di tingkat nagari, dukungan operasional pemerintah nagari, penyusunan SOP kesiapsiagaan, serta koordinasi data kebencanaan dengan pemerintah daerah. Materi pelatihan, SOP darurat, video edukasi mitigasi bencana, dan rekomendasi kebijakan kebencanaan turut disiapkan sebagai rujukan bagi kader, pemerintah nagari, BPBD, dan DPMD Provinsi Sumatera Barat.

Dr. Yasdinul menegaskan bahwa pendekatan “Basamo” dibangun dari kebutuhan masyarakat, dengan teknologi sebagai sarana memperluas akses belajar, memperkuat ekonomi nagari, menjaga pengetahuan budaya, dan meningkatkan kesiapsiagaan. Keberhasilan program, lanjutnya, ditentukan oleh kemampuan masyarakat menggunakannya secara konsisten.

Program ini sekaligus memperlihatkan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi yang menghubungkan pendidikan, riset, dan pengabdian dengan kebutuhan nyata masyarakat. Kolaborasi UNP, UNJ, UT, UNY, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, pemerintah kabupaten, dan pemerintah nagari diharapkan menghasilkan model pendampingan yang dapat direplikasi secara bertahap di nagari lain.

Melalui ekosistem “Basamo NCH”, tiga nagari mitra kini memiliki fondasi untuk mengelola pembelajaran warga, data pembangunan, promosi UMKM, dan informasi kebencanaan dalam satu dasboard digital (satu genggaman). Inisiatif ini mendukung pembangunan dari nagari, pengurangan risiko bencana, penguatan ekonomi lokal, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui kemitraan yang berangkat dari semangat gotong royong.

rogram ini mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan literasi digital, UMKM, inovasi teknologi, mitigasi bencana, serta kolaborasi lintas perguruan tinggi dan pemerintah.(YH)