UNP Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Siswa SLB melalui Tas Siaga Berbasis Teknologi

Padang Panjang— Universitas Negeri Padang (UNP) memperkuat kesiapsiagaan bencana bagi siswa berkebutuhan khusus melalui pelatihan mitigasi bencana dan penggunaan Tas Siaga Bencana berbasis teknologi informasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan tim pengabdian Departemen Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNP di SLBN 1 Padang Panjang pada 6–7 Agustus 2026.

Kegiatan bertajuk “Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana bagi Siswa SLB melalui Tas Siaga Bencana Berbasis IT dan Konvensional” ini merupakan bagian dari Program Pengabdian UNP Berdampak. Program dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan siswa berkebutuhan khusus dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya di wilayah yang memiliki potensi risiko bencana.

Padang Panjang merupakan salah satu wilayah di Sumatera Barat yang berada di kawasan rawan bencana karena berdekatan dengan Gunung Marapi yang masih aktif serta berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik. Kondisi tersebut mendorong perlunya edukasi kebencanaan yang inklusif dan adaptif, terutama bagi siswa berkebutuhan khusus.

Sebanyak 50 siswa dan 25 guru pendamping SLBN 1 Padang Panjang mengikuti rangkaian kegiatan. Materi yang diberikan mencakup mitigasi gempa bumi, banjir, dan letusan gunung api melalui metode visual, demonstrasi, praktik langsung, serta simulasi evakuasi.

Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai jenis dan risiko bencana, tetapi juga dilatih mengenali langkah penyelamatan diri dan mengikuti prosedur evakuasi secara langsung. Pendekatan praktik dipilih agar materi kesiapsiagaan lebih mudah dipahami dan sesuai dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus.

Inovasi utama dalam program ini adalah Tas Siaga Bencana berbasis IT dan konvensional. Tas tersebut dilengkapi QR Code yang terhubung dengan panduan mitigasi, video edukasi, dan berbagai media digital yang dapat diakses melalui perangkat Android maupun iOS.

Selain materi digital, tas juga berisi perlengkapan darurat seperti senter, masker, kotak P3K, makanan, dan air minum. Perpaduan teknologi dengan perlengkapan fisik tersebut memungkinkan siswa mempraktikkan kesiapsiagaan secara lebih konkret sekaligus memahami fungsi masing-masing perlengkapan saat menghadapi kondisi darurat.

Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Mega Iswari, M.Pd., bersama anggota tim Dra. Zulmiyetri, M.Pd., Dr. Zahriyah Simargolang, M.A., Yosa Yulia Nasri, M.Pd., dan Syari Yuliana, M.Pd. Program turut melibatkan mahasiswa Wahibburahman, Berlian Eka Putri, dan Dorenwiranata, serta menggandeng Jessy Marantika, S.Pd., dari SLBN 1 Padang Panjang sebagai mitra kegiatan.

Respons positif datang dari siswa maupun guru. Para siswa terlihat antusias mengikuti pembelajaran melalui visualisasi, demonstrasi, dan simulasi. Sementara itu, guru mendapatkan pemahaman mengenai strategi pendampingan siswa berkebutuhan khusus ketika menghadapi situasi darurat serta bekal untuk melanjutkan edukasi kebencanaan di sekolah.

Salah seorang siswa juga mengungkapkan kegembiraannya setelah mengikuti kegiatan. Ia mengaku lebih memahami langkah-langkah penyelamatan diri saat bencana dan senang mendapatkan tas yang berisi berbagai perlengkapan kesiapsiagaan.

Program ini hadir sebagai respons terhadap keterbatasan media pembelajaran kebencanaan yang adaptif bagi siswa berkebutuhan khusus. Selain memperkuat kesiapsiagaan warga sekolah, kegiatan tersebut juga mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan tangguh terhadap bencana.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim pengabdian UNP menyerahkan modul pelatihan kesiapsiagaan bencana serta panduan penggunaan Tas Siaga Bencana kepada pihak sekolah. Guru juga mendapatkan pendampingan agar edukasi dan simulasi kebencanaan dapat dilaksanakan secara berkala.

Melalui program tersebut, UNP mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan SLBN 1 Padang Panjang sekaligus menghadirkan model edukasi kebencanaan yang lebih inklusif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.