Jadi Jembatan Komunikasi, Cerita Juru Bahasa Isyarat Dampingi Mahasiswa Tuli di PKKMB UNP 2026

Valentina Sholatia (kiri), mahasiswa PLB UNP saat bertugas menjadi Juru Bahasa Isyarat (JBI) pada PKKMB 2026. (Foto: Vira/Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis)
Valentina Sholatia (kiri), mahasiswa PLB UNP saat bertugas menjadi Juru Bahasa Isyarat (JBI) pada PKKMB 2026. (Foto: Vira/Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis)

Padang – Di tengah pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Padang (UNP) ada sosok yang mencuri perhatian di atas podium Auditorium UNP. Mereka adalah Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang sama seperti pelaksanaan PKKMB tahun sebelumnya, memastikan mahasiswa penyandang disabilitas tuli dapat mengikuti setiap materi dan arahan selama kegiatan berlangsung.

Pada PKKMB tahun ini, UNP menerima 20 mahasiswa baru penyandang disabilitas yang terdiri atas disabilitas tuli, netra, daksa, dan autisme. Khusus bagi mahasiswa tuli, kampus melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) menghadirkan JBI sebagai jembatan komunikasi agar informasi yang disampaikan narasumber dapat diterima secara utuh.

Salah seorang JBI yang bertugas adalah Valentina Sholatia, mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNP. Bersama rekannya, Eldo ia mendampingi mahasiswa tuli selama mengikuti rangkaian PKKMB.

Valentina menjelaskan bahwa penugasan JBI tidak hanya ditentukan oleh kampus, tetapi juga mempertimbangkan rekomendasi dari mahasiswa tuli sendiri. Sebelum PKKMB dimulai, mahasiswa baru biasanya telah berkomunikasi dengan kakak tingkat maupun komunitas mahasiswa tuli di UNP sehingga mereka mengetahui JBI yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan mereka.

“Teman-teman tuli biasanya sudah memiliki relasi dengan kakak tingkat. Mereka juga memberikan rekomendasi JBI yang paling nyaman untuk mendampingi mereka,” ujarnya.

Menurut Valentina, menjadi JBI bukan sekadar menerjemahkan setiap kalimat yang disampaikan narasumber. Tantangan terbesar justru terletak pada perbedaan bahasa isyarat yang digunakan di setiap daerah.

“Bahasa isyarat itu seperti bahasa daerah. Isyarat di Padang bisa berbeda dengan Bukittinggi. Jadi kami harus menyamakan pemahaman terlebih dahulu,” katanya.

Ia mengungkapkan proses pendampingan berlangsung dua arah. Ketika JBI menemukan isyarat yang kurang tepat, mahasiswa tuli tidak segan untuk mengoreksi dan mengajarkan isyarat yang benar. Sebaliknya, JBI juga membantu menyampaikan materi agar lebih mudah dipahami.

“Kalau kami bingung, teman-teman tuli juga membantu mengajarkan. Jadi kami saling belajar,” tambahnya.

Selain mendampingi mahasiswa tuli melalui JBI, UNP juga menyiapkan pendamping bagi mahasiswa disabilitas netra untuk membantu mobilitas selama mengikuti PKKMB, mulai dari mengenalkan lingkungan kampus hingga mendampingi perpindahan lokasi kegiatan.

Melalui layanan yang dikoordinasikan Unit Layanan Disabilitas, seluruh mahasiswa penyandang disabilitas dapat mengikuti PKKMB sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya UNP mewujudkan lingkungan kampus yang semakin inklusif, sehingga setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk beradaptasi dan memulai kehidupan akademik.

SDGs: SDG 4 (Quality Education/Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Reduced Inequalities/Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals/Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (Utr/Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis)