humas@unp.ac.id

Agam – Pengalaman menghadapi bencana galodo membuat masyarakat Nagari Lasi, Kabupaten Agam, perlu terus memperkuat kesiapsiagaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kemampuan perempuan, khususnya Bundo Kanduang dan kelompok PKK, dalam menghadapi bencana.
Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan Tim Pengabdi Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang (UNP), melalui program Penguatan Kapasitas Bundo Kanduang dan PKK dalam Mitigasi dan Respons Kebencanaan untuk Mewujudkan Ketahanan Sosial Nagari di Nagari Lasi, Jumat (7/8/2026).
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis, Senin (10/8/2026) kegiatan ini merupakan bagian dari Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) LPPM UNP. Sebelumnya, tim pengabdi telah melakukan identifikasi potensi perempuan dalam komunitas adat serta pemetaan risiko bencana di Nagari Lasi. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Nagari Lasi dipilih karena memiliki pengalaman menghadapi bencana galodo akibat aktivitas Gunung Marapi. Selain bencana besar pada 1972, kawasan ini kembali terdampak galodo pada 11 Mei 2024 dan 29 September 2025. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dalam kegiatan tersebut, Bundo Kanduang, ibu-ibu PKK, kader Posyandu, kader tani, dan kader masyarakat mendapatkan pengetahuan mengenai mitigasi bencana, kesiapsiagaan keluarga, hingga pengelolaan kebutuhan saat kondisi darurat.

Ketua Tim Pengabdi, Prof. Dr. Suryanef, M.Si., menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membangun kesiapsiagaan keluarga. Menurutnya, keluarga yang siap menghadapi bencana akan membantu memperkuat ketahanan masyarakat secara keseluruhan.
“Bundo Kanduang merupakan kekuatan sosial yang dimiliki nagari. Ketika perempuan memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, maka keluarga menjadi lebih tangguh, masyarakat lebih siap, dan nagari memiliki fondasi ketahanan sosial yang semakin kuat,” ujarnya.
Pemahaman tersebut diberikan melalui sejumlah materi yang disampaikan para pengabdi. Prof. Dr. Suryanef, M.Si., membahas ketahanan sosial nagari dan peran Bundo Kanduang dalam mitigasi bencana. Sementara itu, Dr. Rika Febriani, M.Fils., membahas perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam mitigasi bencana.
Selanjutnya, Dr. Monica Tiara, M.Pd., mengajak peserta memahami kesiapsiagaan keluarga melalui materi “Keluarga Siaga, Nagari Tangguh: Manajemen Logistik dan Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Komunitas.”
Peserta juga mengikuti simulasi Tas Siaga Bencana. Dalam simulasi tersebut, peserta diminta memilih perlengkapan yang dianggap paling penting untuk dibawa saat menghadapi kondisi darurat. Dari kegiatan ini, peserta diajak memahami pentingnya menyiapkan dokumen penting, obat-obatan, perlengkapan darurat, serta membangun komunikasi keluarga sebelum bencana terjadi.
Ketua Bundo Kanduang Nagari Lasi, Farida, turut berbagi pengalaman masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Dialog tersebut menjadi ruang untuk membahas kesiapsiagaan perempuan sekaligus memperkuat peran komunitas adat dalam menghadapi bencana.
Kegiatan dibuka oleh Wali Nagari Lasi, Adrizal, yang mengapresiasi kolaborasi PPKn dan LPPM UNP dengan Pemerintah Nagari Lasi. Ia menilai kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat.
Pemerintah Nagari Lasi yang diwakili Nofa Emria Rosa berharap kerja sama antara UNP, pemerintah nagari, Bundo Kanduang, PKK, dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga kesiapsiagaan menghadapi bencana dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Tim Pengabdi PPKn UNP mendorong agar kesiapsiagaan bencana dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Dengan perempuan yang lebih siap dan memiliki pengetahuan tentang mitigasi bencana, ketahanan keluarga dan masyarakat diharapkan semakin kuat menuju Nagari Lasi yang tangguh menghadapi bencana.
