humas@unp.ac.id

Padang – Pelaksanaan PKKMB 2026 gugus I di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) memasuki hari kedua, Rabu (5/8/2026). Di antara ribuan mahasiswa yang mengikuti kegiatan, hadir pula 20 mahasiswa baru penyandang disabilitas yang memulai perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar UNP. Mereka berasal dari berbagai ragam disabilitas, mulai dari tuli, netra, daksa hingga autisme, dan mengikuti seluruh rangkaian PKKMB dengan pendampingan yang disiapkan kampus.
Melalui Unit Layanan Disabilitas, UNP memberikan layanan sesuai kebutuhan masing-masing mahasiswa. Peserta disabilitas tuli didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI) selama penyampaian materi, sementara mahasiswa disabilitas netra mendapatkan pendamping khusus agar dapat mengikuti setiap agenda PKKMB dengan aman dan nyaman. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya UNP dalam mewujudkan lingkungan belajar yang inklusif bagi seluruh mahasiswa.
Di antaranya, M. Jibril Ramadhan yang tampak tak berbeda dengan peserta lainnya. Mengenakan setelan putih hitam seperti yang lainnya, baru ketika diperhatikan lebih dekat, terlihat sebuah perangkat kecil menempel di telinga kirinya. Itulah bagian luar dari implan koklea, alat bantu dengar yang telah menemaninya sejak berusia lima tahun.

Jibril merupakan mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang lahir dengan gangguan pendengaran. Lulusan SMKN 4 Padang itu mengaku sempat bercita-cita menjadi pilot. Namun, kondisi pendengarannya membuat ia mengalihkan impian tersebut.
Ketertarikannya pada dunia seni dan menggambar akhirnya membawanya memilih DKV sebagai jalan untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya. “Saya memang suka menggambar. Saya memilih UNP karena biaya kuliah mandirinya jauh lebih murah dari kampus negeri lainnya,” ujarnya.
Semangat yang sama juga dimiliki Muhammad Zaki Berliandi, Novero Raya Kamanda, dan Wahyu Alfarsi, mahasiswa baru penyandang disabilitas tuli yang mengikuti PKKMB dengan pendampingan Juru Bahasa Isyarat. Kehadiran JBI membantu mereka memahami setiap materi, arahan, maupun informasi yang disampaikan selama kegiatan berlangsung.
Bagi Wahyu, perjalanan menuju bangku kuliah tidak selalu mudah. Ia harus mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi beberapa kali sebelum akhirnya diterima di UNP pada tahun ini. Kegagalan tidak membuatnya menyerah. Ia memilih Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) dengan harapan kelak dapat kembali ke daerah asalnya di Padang Pariaman dan menjadi guru bagi anak-anak tuli.
Hal senada juga disampaikan Zaki dan Vero, UNP menjadi kampus untuk menggantungkan cita-cita dan masa depan mereka. Perasaan bangga diutarakan keduanya saat pertama kali memasuki Gedung Auditorium UNP.
“Sebelum menetapkan pilihan ke UNP, kami sudah mengetahui adanya layanan disabilitas UNP, hal inilah salah satu pendorong untuk meletakan pilihan berkuliah di UNP,” tambah Vero dan Zaki ekspresif saat ditemui Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis UNP disela-sela PKKMB yang didampingi JBI, Aura Putri dari PLB.

Keberadaan layanan bagi mahasiswa disabilitas menjadi salah satu alasan yang membuat mereka semakin yakin menempuh pendidikan di UNP. Informasi mengenai adanya pendampingan tersebut mereka peroleh dari teman-teman penyandang disabilitas yang lebih dahulu berkuliah di UNP.
Selama PKKMB, mahasiswa disabilitas tidak hanya memperoleh akses terhadap materi melalui pendamping maupun JBI, tetapi juga didampingi dalam proses adaptasi dengan lingkungan kampus. Pendamping mengenalkan lokasi kegiatan, membantu mobilitas peserta yang membutuhkan, serta memastikan setiap mahasiswa dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan setara.
Di akhir wawancara, para mahasiswa berharap semakin banyak sivitas akademika yang mempelajari bahasa isyarat sehingga komunikasi di lingkungan kampus menjadi semakin inklusif. Mereka juga berharap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dapat dimanfaatkan untuk semakin mempermudah komunikasi bagi penyandang disabilitas di masa mendatang.
Kisah Jibril dan 19 mahasiswa disabilitas lainnya menjadi gambaran bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi akan semakin terbuka ketika didukung lingkungan yang inklusif. Melalui layanan yang terus dikembangkan, UNP berupaya memastikan setiap mahasiswa memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, beradaptasi, dan meraih cita-cita tanpa terkecuali.

SDGs: SDG 4 (Quality Education/Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Reduced Inequalities/Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals/Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (Utr/Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis)
