Program Profesi Insinyur FT UNP Kukuhkan 28 Insinyur Angkatan II, Rektor: Etika Jadi yang Utama

PADANG – Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Padang (UNP) menyelenggarakan Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Insinyur Angkatan II, Rabu (30/9), di Ballroom UNP Hotel & Convention Center. Sebanyak 28 peserta resmi dikukuhkan sebagai insinyur pada kegiatan tersebut.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Umum, Keuangan, Aset, dan Usaha UNP; Wakil Dekan Bidang Keuangan, Sumber Daya, Kerja Sama, dan Umum FT UNP; Ketua Senat FT UNP; Direktur Umum, Keuangan, dan Aset UNP; serta Kepala Kantor Keprotokoleran UNP.

Ketua PSPPI FT UNP, Dr. Ir. Fadhilah, S.Pd., M.Si., IPM., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni FT UNP dalam laporannya menyampaikan bahwa peserta angkatan kedua ini tidak hanya berasal dari Kota Padang, tetapi juga dari Medan, Kepulauan Riau, dan Jakarta. Sebagian peserta merupakan dosen FT UNP, sementara lainnya berasal dari kalangan praktisi.

“Ke depan kami berharap dapat membuka kelas rekognisi pembelajaran lampau (RPL) dan semakin banyak praktisi yang mengikuti PSPPI, karena gelar Ir. sangat dibutuhkan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas suatu kegiatan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengukuhan ini merupakan kewajiban bagi setiap calon insinyur. Hal itu merujuk pada Pasal 41 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, yang menyatakan bahwa insinyur menyatakan kesanggupannya memenuhi kode etik.

Dekan FT UNP, Prof. Dr. Muhammad Anwar, S.Pd., MT., dalam sambutannya menyebutkan bahwa PSPPI merupakan inisiatif Rektor UNP. Ia berpesan kepada para lulusan agar menjunjung tinggi profesionalitas, yakni sejauh mana seseorang memiliki pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan di bidang keinsinyuran.

“Insinyur itu mengubah masalah menjadi ide, mengubah ide menjadi desain, dan mengubah desain menjadi bangunan,” katanya.

Menurutnya, pergeseran dari vokasi ke profesi hanya dibedakan oleh seberapa besar seorang profesional dibayar. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya etika dan tanggung jawab terhadap profesi serta berpegang teguh pada ikrar yang diucapkan dalam prosesi pengukuhan.

Rektor UNP, Ir. Krismadinata, Ph.D., yang membuka kegiatan tersebut, menekankan bahwa dunia akademik dan dunia profesional harus saling mengisi dan berbagi. Menurutnya, insinyur profesional perlu berinteraksi dengan dunia nyata, tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara riil di lapangan.

“Belajar sepanjang hayat, jaga silaturahmi dan kolaborasi, karena banyak hal yang bisa kita selesaikan bersama,” ujarnya.

Rektor menyebut pembelajaran di PSPPI UNP memiliki ciri khas karena melibatkan para profesional dalam prosesnya. Ia menegaskan bahwa yang lebih diutamakan bagi seorang insinyur profesional adalah etika.

“Ini bukanlah akhir, tetapi awal perjalanan profesional Bapak dan Ibu,” pesannya kepada para insinyur yang dikukuhkan.

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) diwakili Ketua Wilayah Sumatera Barat, Ir. Muhammad Dien, ST., MT., IPU., ASEAN Eng. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa profesi insinyur memiliki kedudukan yang sangat strategis bagi perjalanan suatu bangsa.

“Hampir tidak ada kemajuan peradaban yang lahir tanpa kontribusi insinyur,” katanya.

Ia menambahkan, praktik keinsinyuran bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan kegiatan profesional yang harus dilaksanakan berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kompetensi, personalitas, serta tanggung jawab terhadap keselamatan dan kemaslahatan masyarakat.

Penyelenggaraan PSPPI ini sejalan dengan komitmen UNP dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kolaborasi antara perguruan tinggi, praktisi, dan organisasi profesi juga menjadi bagian dari upaya UNP memperkuat kualitas pendidikan dan dampak institusional menuju World Class University. (ab/KKPS)