humas@unp.ac.id

Lima Puluh Kota — Tim Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) Universitas Negeri Padang (UNP) melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan pengolahan ayam petelur afkir menjadi burger bernilai tambah di Nagari Taram, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kegiatan ini mengangkat tema “Pelatihan dan Pendampingan Pengolahan Ayam Petelur Afkir Menjadi Burger Bernilai Tambah untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat di Nagari Taram Kabupaten 50 Kota.” Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan masyarakat dalam mengolah ayam petelur afkir menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Tim pengabdian diketuai oleh Prof. Dr. Elida, M.Pd., dengan anggota Prof. Dr. Ir. Anni Faridah, M.Si., Feri Ferdian, S.ST., M.M., Ph.D., CHE, Dr. Retnaningtyas Susanti, S.Ant., M.Sc., Hendri Azwar, S.St., M.Par., Ph.D., dan Prof. Dr. Yuliarma, M.Ds. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa, yaitu Abdul Habib Arrasyidi Desky mahasiswa program doktor PTK di FT UNP, Aisha Diva Medina, dan Indah Muthia Ayuni mahasiswa S2 pascasarjana di FPP UNP, serta mitra masyarakat Nagari Taram yang dikoordinasikan bersama Wali Nagari Taram, Nanang Anwar, S.E.

Ketua tim, Prof. Dr. Elida, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai ekonomi ayam petelur afkir yang selama ini umumnya hanya dijual dalam bentuk hidup atau karkas. Padahal, ayam petelur afkir masih memiliki kandungan protein yang tinggi dan berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktik dalam mengolah ayam petelur afkir menjadi produk burger yang memiliki kualitas, cita rasa, higienitas, dan daya saing,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian difokuskan pada beberapa aspek utama, yaitu pengolahan produk, peningkatan kualitas dan higienitas, pengemasan dan pelabelan, manajemen usaha, serta pemasaran produk. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjual bahan baku, tetapi mengembangkan produk olahan yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pelatihan secara langsung atau hands-on training. Materi pelatihan mencakup karakteristik ayam petelur afkir, teknik penggilingan daging, formulasi bahan, teknik memperbaiki tekstur, pembuatan burger patty, pengemasan higienis, perhitungan biaya produksi, penetapan harga jual, hingga strategi pemasaran secara langsung dan digital.

Tim juga menyiapkan modul dan panduan praktis yang dapat digunakan masyarakat sebagai acuan dalam proses produksi. Sebelum diterapkan secara lebih luas, produk terlebih dahulu melalui tahapan uji coba, evaluasi kualitas, uji organoleptik yang meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur, serta penyempurnaan formulasi dan kemasan.
Prof. Dr. Ir. Anni Faridah, M.Si., mengatakan bahwa inovasi pengolahan bahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah merupakan salah satu langkah strategis dalam membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
“Pengolahan ayam petelur afkir menjadi burger merupakan bentuk diversifikasi pangan yang dapat meningkatkan nilai tambah bahan lokal sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, aspek desain kemasan dan identitas produk menjadi bagian yang turut diperhatikan dalam kegiatan. Prof. Dr. Yuliarma, M.Ds. berperan dalam pengembangan desain produk dan kemasan agar produk olahan masyarakat memiliki tampilan yang menarik serta mampu memperkuat daya saing di pasar.
Dari aspek pemberdayaan masyarakat, Dr. Retnaningtyas Susanti, S.Ant., M.Sc. memberikan penguatan pada pendekatan partisipatif dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Pendekatan ini penting agar masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan dan mampu melanjutkan usaha setelah program pengabdian selesai.
Sementara itu, Hendri Azwar, S.St., M.Par., Ph.D. turut memperkuat aspek pengembangan produk kuliner lokal, branding, serta strategi pemasaran. Pengembangan produk yang memiliki identitas dan strategi pemasaran yang tepat diharapkan dapat memperluas pasar dan meningkatkan nilai jual produk.
Pada aspek pengembangan usaha dan produk kuliner, Feri Ferdian, S.ST., M.M., Ph.D., CHE turut mendukung peningkatan kompetensi masyarakat dalam pengolahan makanan, higiene, serta pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan usaha kuliner.
Program PIPN ini tidak hanya berorientasi pada kegiatan pelatihan, tetapi juga diarahkan pada keberlanjutan usaha. Tim melakukan pendampingan, evaluasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan melalui pre-test dan post-test, serta monitoring terhadap produksi awal dan perkembangan usaha masyarakat.
Melalui program tersebut, tim menargetkan terbentuknya minimal satu produk burger berbahan ayam petelur afkir yang siap dipasarkan, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra, tersusunnya modul dan panduan praktis, serta berkembangnya kemampuan masyarakat dalam pengelolaan dan pemasaran usaha. Proposal juga menargetkan artikel ilmiah pada jurnal nasional terindeks Sinta 2 dan publikasi kegiatan melalui media massa atau media elektronik.
Program ini diharapkan menjadi salah satu bentuk kontribusi UNP dalam mendorong hilirisasi potensi lokal, penguatan UMKM, peningkatan keterampilan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Pemanfaatan ayam petelur afkir menjadi burger bernilai tambah diharapkan mampu mengubah bahan yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi rendah menjadi produk pangan yang lebih kompetitif dan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat Nagari Taram.
Program PIPN UNP tidak hanya memberikan keterampilan teknis kepada masyarakat, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem usaha lokal yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 1: Tanpa Kemiskinan, melalui upaya meningkatkan peluang pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat; SDGs 2: Tanpa Kelaparan, melalui pengembangan dan diversifikasi produk pangan berbasis sumber daya lokal; SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui peningkatan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, dan penciptaan peluang usaha baru; serta SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pemanfaatan ayam petelur afkir menjadi produk pangan bernilai tambah.
