humas@unp.ac.id

Padang Pariaman — Universitas Negeri Padang (UNP) bekali masyarakat Nagari Sikabu, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, dengan keterampilan memproduksi sabun cuci piring ramah lingkungan melalui pelatihan yang digelar di Posko Kelompok Wanita Tani (KWT) Kampus Indah, Kamis (6/8/2026).
Pelatihan yang melibatkan anggota KWT Kampus Indah dan Tim Pengabdian Masyarakat UNP tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk rumah tangga secara mandiri. Peserta mempelajari formulasi, fungsi bahan, proses produksi, hingga aspek keselamatan kerja dalam pembuatan sabun cuci piring.
Keterampilan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha rumah tangga. Pengembangan sabun cuci piring menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pemberdayaan masyarakat.

Formulasi dan Proses Produksi Menentukan Kualitas Sabun
Proses produksi menjadi fokus utama pelatihan. Sebelum praktik, peserta memperoleh penjelasan mengenai formulasi sabun cuci piring, fungsi setiap bahan penyusun, serta tahapan pembuatannya.
Ketepatan komposisi bahan, urutan pencampuran, teknik pengadukan, dan kebersihan selama produksi menjadi faktor yang diperhatikan untuk menghasilkan sabun dengan daya bersih yang baik, aman digunakan, dan ramah terhadap lingkungan. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai keselamatan kerja selama proses pembuatan produk.
Setelah memahami formulasi, peserta melakukan praktik secara berkelompok. Setiap kelompok melakukan penimbangan bahan, pencampuran, pengadukan, dan pengaturan kekentalan sabun sesuai tahapan yang telah diberikan. Tim pengabdian melakukan pendampingan selama proses tersebut untuk memastikan setiap tahapan dilakukan sesuai formulasi.

NaCl Digunakan untuk Mengatur Kekentalan Produk
Salah satu tahapan penting dalam produksi adalah pengaturan kekentalan sabun menggunakan larutan natrium klorida (NaCl). Pada sesi praktik, peserta memperhatikan bahwa larutan tersebut tidak dituangkan sekaligus, tetapi ditambahkan secara bertahap.
Salah seorang peserta, Deswita, menanyakan alasan penggunaan teknik tersebut. Mengapa larutan NaCl tidak langsung dituangkan sekaligus, tetapi harus ditambahkan sedikit demi sedikit?” tanyanya.
Tim pelaksana menjelaskan bahwa NaCl berfungsi sebagai pengatur kekentalan (viscosity modifier) dalam formulasi sabun cuci piring. Penambahannya dilakukan secara bertahap sambil terus diaduk karena perubahan konsentrasi NaCl dapat memengaruhi karakteristik larutan.
Jika NaCl yang ditambahkan masih terlalu sedikit, sabun belum mencapai kekentalan yang diinginkan. Sebaliknya, penambahan secara berlebihan dapat menyebabkan viskositas menurun sehingga larutan kembali menjadi lebih encer. Karena itu, peserta dilatih memperhatikan perubahan tekstur selama proses pengadukan untuk memperoleh tingkat kekentalan yang sesuai.
Peserta kemudian menerapkan teknik tersebut dalam praktik kelompok dengan melakukan penambahan larutan NaCl secara bertahap hingga memperoleh tingkat kekentalan yang sesuai dengan formulasi.
Produk Didiamkan sebelum Dikemas dan Diberi Label
Tahapan produksi dilanjutkan dengan proses stabilisasi. Sabun yang telah selesai diaduk tidak langsung dimasukkan ke dalam botol, tetapi didiamkan selama beberapa jam agar busa yang terbentuk selama pengadukan dapat menghilang secara alami.
Proses tersebut dilakukan untuk memperoleh larutan sabun yang lebih homogen, jernih, dan stabil sebelum dikemas. Setelah busa menghilang, sabun dimasukkan ke dalam botol dan diberi label sebagai tahap akhir produksi.
Seluruh peserta berhasil menyelesaikan tahapan pembuatan sabun dan memahami proses produksi mulai dari pencampuran bahan, pengaturan kekentalan menggunakan NaCl, hingga stabilisasi sebelum pengemasan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal bagi peserta untuk memproduksi sabun secara mandiri dengan proses yang konsisten.
Produk Rumah Tangga Dibuka untuk Peluang Usaha
Keterampilan produksi yang diperoleh peserta tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sabun cuci piring yang dapat diproduksi secara mandiri juga membuka peluang untuk dikembangkan sebagai usaha rumah tangga.
Dokumen kegiatan menyebut keterampilan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap produk komersial, membuka peluang usaha rumah tangga, serta mendukung peningkatan kesejahteraan melalui produk ramah lingkungan yang dapat diproduksi secara mandiri.
Kemampuan menjaga formulasi dan konsistensi proses produksi menjadi bekal bagi masyarakat apabila produk dikembangkan lebih lanjut. Mulai dari komposisi bahan, proses pengadukan, pengaturan kekentalan, stabilisasi, hingga pengemasan menjadi rangkaian produksi yang dipelajari peserta selama kegiatan.
Dukung SDGs dan Implementasi Kampus Berdampak
Pengembangan sabun cuci piring ramah lingkungan tersebut memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Peluang pengembangan produk menjadi usaha rumah tangga relevan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama dalam peningkatan keterampilan produktif dan peluang kegiatan ekonomi masyarakat.
Pengembangan produk rumah tangga yang memperhatikan aspek lingkungan juga berkaitan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Sementara itu, keterlibatan UNP dan kelompok masyarakat dalam penerapan pengetahuan dan teknologi tepat guna mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Program ini sekaligus mencerminkan implementasi Kampus Berdampak melalui penerapan pengetahuan perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dampaknya diwujudkan melalui keterampilan yang dapat langsung diterapkan peserta, mulai dari memahami formulasi, mencampur bahan, mengatur kekentalan, melakukan stabilisasi, hingga menghasilkan sabun cuci piring yang siap dikemas.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat Nagari Sikabu memperoleh keterampilan produksi yang dapat diterapkan secara mandiri maupun dikembangkan secara berkelompok. Pengembangan sabun cuci piring ramah lingkungan diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi produk yang dapat membuka peluang usaha sekaligus memperkuat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat. (RZ UNP)
