UNP Hadirkan Kuliah Umum Bersama Sestama BKKBN RI, Bahas Strategi Kependudukan dan Kesehatan Mental Remaja

PADANG — Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar kuliah umum bertema “Strategi Kependudukan, Kesehatan Mental, dan Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja”(SDG3) yang menghadirkan Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol., Ph.D., Sekretaris Utama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia (BKKBN), sebagai narasumber utama. Kegiatan ini berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP pada Rabu, (19/8)

Kuliah umum ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Kepala Kantor Keprotokoleran UNP, Kepala Perwakilan BKKBN Sumatera Barat, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) BKKBN se-kabupaten/kota Sumatera Barat (SDG17). Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Okki Trinanda, S.E., M.M.

Rektor UNP, Ir. Krismadinata, Ph.D., memberikan sambutan sekaligus secara resmi membuka kuliah umum tersebut. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Budi Setiyono dimaksudkan untuk memberikan wawasan langsung dari sosok yang memiliki dua peran sekaligus, yakni akademisi (dosen Universitas Diponegoro) dan birokrat. Menurutnya, kesempatan ini menjadi kajian akademik yang berharga bagi sivitas akademika UNP, sejalan dengan motto UNP “Alam Takambang Jadi Guru”, yang menekankan pentingnya belajar dari pengalaman dan pengetahuan nyata di lapangan (SDG4).

Dalam paparannya, Prof. Budi Setiyono, yang juga tercatat sebagai mantan Wakil Rektor Universitas Diponegoro, mengangkat tema besar mengenai “Kapitalisasi Bonus Demografi untuk Mendukung Program Prioritas Presiden dan Pertumbuhan Ekonomi 8%” (SDG8). Ia menyampaikan bahwa UNP merupakan salah satu perguruan tinggi yang mendapat pengakuan (rekognisi) dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) untuk turut mendukung pertumbuhan dan percepatan ekonomi, khususnya di wilayah Sumatera Barat.

Prof. Budi menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengelola generasi muda di tengah derasnya arus informasi saat ini. Ia menjelaskan bahwa beban informasi yang berlebihan (overload) dapat mendorong generasi muda untuk lebih bersikap opportunistik, sehingga mereka cenderung mudah melepaskan hal-hal yang sudah berada dalam genggaman mereka demi peluang lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Ia turut mengingatkan bahwa apabila Indonesia gagal mencapai target Indonesia Emas 2045 dari sisi demografi, negara berisiko terjebak dalam status middle income country atau middle income trap. Hal ini disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk usia produktif yang tidak diimbangi dengan produktivitas riil.

Lebih lanjut, Prof. Budi memaparkan bahwa apabila pertumbuhan ekonomi berada di bawah angka 8%, maka jumlah pengangguran yang tidak terakomodasi lapangan kerja akan semakin meningkat. Kondisi ini, menurutnya, berisiko mendorong sebagian generasi muda tanpa pekerjaan untuk terlibat dalam aktivitas preman, organisasi masyarakat (ormas), atau kelompok tertentu yang dapat mengganggu produktivitas masyarakat lainnya. Ia juga menegaskan bahwa lemahnya pertumbuhan investasi berbanding lurus dengan berkurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia (SDG10).

Prof. Budi menyampaikan data bahwa total penduduk Indonesia saat ini mencapai 284,67 juta jiwa, dengan 196 juta jiwa atau sekitar 64 persen di antaranya merupakan penduduk usia produktif. Menurutnya, kunci utama dalam menghadapi bonus demografi ini terletak pada bagaimana mengaktualisasikan produktivitas penduduk usia produktif tersebut secara riil dan berkelanjutan.

Rangkaian kuliah umum ditutup dengan penyerahan sertifikat dan cinderamata kepada narasumber, dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UNP dalam mendukung program prioritas nasional terkait kependudukan sekaligus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang berkontribusi pada isu-isu strategis bangsa. (ab/KKPS)